Skip to content

Kajian Qur an untuk Anak Usia Dasar

December 13, 2012

oleh : Irfan Afandi, MSI (*)

(pernah dipublikasikan di Jurnal ar-Risalah, 2009)

Pembukaan

Kajian al-Qur’an sebagai aktifitas pembelajaran telah dilakukan sejak Islam masuk ke Indonesia untuk pertama kalinya. Mahmud Yunus melaporkan tentang aktifitas kajian al-Qur’an yang dilakukan semenjak usia dini. Aktifitas pembelajaran ini, pertama kalinya, dilakukan secara informal (bukan di sekolahan) di surau, langgar dan masjid. Kajian ini merupakan praktek pendidikan pertama al-Qur’an. Model aktifitas pembelajaran ini masih dipertahankan sampai sekarang, hal ini terlihat dengan maraknya penyelenggaraan pendidikan baca-tulis al-Qur’an di tempat yang sama dengan beragam variasi strategi pembelajaran. Karel A. Stembring menjelaskan tentang materi pembelajaran al-Qur’an. Menurutnya, pembelajaran al-Qur’an adalah pengajaran pembacaan dari beberapa bagian surat al-Qur’an yang dimulai dengan surat Fatihah dan dilanjutkan dengan surat-surat pendek dalam juz ‘amma (bagian ke-30 dari juz al-Qur’an).

Pada era sekarang, kajian al-Qur’an telah berkembang secara masif baik dalam tradisi membaca, menulis, menghafal dan memahami ayat-ayat al-Qur’an. Aktifitas ini tidak hanya di lakukan di masjid-masjid tetapi juga di sekolah formal. Metode dan tata cara pengajarannya pun juga sangat beragam. Perkembangan yang sangat pesat ini merupakan salah satu wujud kecintaan umat Islam kepada al-Qur’an. Semua tradisi tersebut tersimpan secara rapi dalam bentuk buku-buku yang dikarang oleh para intelektual muslim.

Dalam tradisi pembacaan al-Qur’an banyak disiplin ilmu yang memformulasikan tata cara membaca al-Qur’an. Disiplin pertama yang berkembang dalam hubungan ini adalah ‘ilmu qira’ah (ilmu membaca al-Qur’an). Dalam masyarakat Islam awal, qaari’ al-Qur’an (pembacaal-Qur’an) adalah sebutan kehormatan. Dulu, Nabi pernah membenarkan sejumlah bacaan, menurut aksen dan dialek suku Arabia. Namun Nabi menentukan standard bacaannya adalah bacaan suku Quraisy. Ada tujuh bacaan al-Qur’an menurut tradisi bacaan al-Qur’an, antara lain Abdullah ibn Kastir, Ashim ibn Abu Nujud, Abdullah ibn Amir, Ali ibn Hamzah, Abu Amr ibn al-‘Ala, Hamzah ibn Habib, Nafi’ ibn Abu Nu’aim.

Masyarakat Indonesia, memakai tradisi pembacaan Ashim dengan riwayat Hafs untuk membaca al-Qur’an. Sehingga, sekolah dasar MI/SD pembacaan yang diadikarang buku-buku tentang tajwid untuk memperindah bacaan al-Qur’an. Objek kajian ilmu ini adalah kalimat-kalimat yang tercantum dalam ayat-ayat al-Qur’an. Penghafalan al-Qur’an dilakukan oleh hampir seluruh umat Islam. Para penghafal al-Qur’an dikenal sebagai penjaga al-Qur’an (hifdzil qur’an). Ketika mereka telah selelsai menghafalnya, para penjaga al-Qur’an mempunyai nilai prestise tersendiri di tengah-tengah masyarakat muslim. Kesempatan menghafal al-Qur’an adalah salah satu dambaan bagi setiap muslim yang menjanjikan kebahagiaan duniawi dan juga kebahagiaan yang bersifat ukhrowi. Selain menjadi penjaga al-Qur’an, mereka mendapat predikat sebagai ahlullah. Achmad Yaman Syamsyudin menyatakan bahwa penghafalan al-Qur’an adalah jalan untuk meraih kemuliaan langsung dari Allah. Menurutnya, proses penghafalan al-Qur’an juga merupakan hal yang mudah. Modal dasar menghafal ayat-ayat al-Qur’an adalah memiliki niat dan kesungguhan. Hasan bin Ahmad Hasan Hamam memaparkan secara teknis beberapa hal yang menjadi kendala-kendala dalam menghafal al-Qur’an. Lupa dan kuatnya ingatan adalah dua di antara masalah penghafalan al-Qur’an. Lupa adalah sifat dasar dari manusia, tetapi apabila para penghafal al-Qur’an dapat mendisiplinkan diri maka dia dapat menguatkan hafalannya. Dalam masalah menguatkan ingatan, Ibn Ahmad menyatakan bahwa metode yang paling bagus untuk menghafal al-Qur’an adalah meneguhkan pendirian dan membentuk kepribadian melalui penghafalan al-Qur’an

Kerangka Defintitif kajian al-Qur’an di Sekolah Dasar

Hal yang patut diperjelas dalam proposal penelitian ini adalah maksud dari term kajian al-Qur’an (qur’anic studies). Di sini, kajian al-Qur’an sangat berbeda tujuannya dengan kajian dalam disiplin ilmu-ilmu al-Qur’an (‘ulum al-Qur’an) baik yang klasik maupun kontemporer. Kajian al-Qur’an di PGMI/SD lebih menekankan sebuah aktifitas pembelajaran tentang al-Qur’an beserta tradisi-tradisi yang telah berkembang dalam masyarakat Islam. Untuk itulah, kajian al-Qur’an di PGMI/SD sangat terkait dengan materi-materi pelajaran yang diberikan kepada peserta didik ketika mereka menjadi guru MI/SD kelak.

Tentunya, banyak strategi pembelajaran yang dibutuhkan untuk menjadi guru yang baik. ‘Strategi’ dalam bahasa Yunani disebut dengan strateos yang bisa menjadi kata kerja dan juga sebagai kata benda. Strateos sebagai kata kerja berarti merancang (to plan) sedangkan sebagai kata benda strateos merupakan gabungan kata stratos (militer) dengan ago (memimpin). H.D Sudjana menggambarkanstrategi sebagai  suatu pola yang direncanakan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan, isi kegiatan, proses kegiatan, dan sarana penunjang kegiatan.Noeng Muhajir, seperti yang dikutib oleh Mansur Isna, mendefinisikan strategi sebagai satu penataan potensi dan sumber daya agar dapat efisien dalam memperoleh hasil sesuai yang dirancangkan. Apabila dihubungkan dengan pembelajaran, strategi dapat diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Sedangkan aktifitas pembelajaran, menurut Oemar Hamalik, merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusia, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang diharapkan dapat tercapai sebagai tujuan pembelajaran.

Dari konsepsi strategi pembelajaran tersebut, kajian al-Qur’an di PGMI harus memperhatikan masalah kegiatan belajar. Kegiatan pembelajaran di PGMI/ SD merupakan aktifitas ajar-mengajar yang mempunyai beberapa maksud, antara lain; pertama, penguasaan pengetahuan dengan jalan mengkaji, menyimak informasi, membaca, mengobservasi, berdiskusi, menganalisis, melakukan percobaan,  mengeksplorasi, dll. Kedua, penguasaanketerampilan dengan jalan berlatih secara individual atau kelompok, latihan situasi nyata atau simulasi; Ketiga, penguasaan nilai dan sikap dengan jalan penghayatan dalam situasi nyata atau buatan, model dari dosen atau tutor.

Mengajarkan al-Qur’an adalah bagian dari konsep manusia ideal dalam Islam. Rasulullah Saw menyatakan “sebaik-baik dari kamu adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya”. Tentunya, tujuan kajian al-Qur’an di PGMI -sebagai aktifitas pembelajaran- bukan hanya bertujuan secara personal –menjadi yang terbaik- tetapi secara umum untuk melestarikan tradisi-tradisi Islam yang berhubungan dengan al-Qur’an. Menurut Ismail Razi al-Faruqy, al-Qur’an merupakan data revelata yangselalu dilestarikan oleh umat Islam. Hal ini dilakukan dengan dibaca, ditulis, dihafalkan dan juga dilestarikan dalam satu pemahaman tertentu yang hidup di masyarakat (living qur’an).

Berdasarkan konsep al-Faruqy tentang al-Qur’an sebagai data relevata ini, maksud kajian al-Qur’an di PGMI/SD atau pelestarian tradisi al-Qur’an, akan direduksi menjadi empat tradisi antara lain; tradisi membaca, tradisi menulis, tradisi menghafalkan dan tradisi memahami ayat-ayat al-Qur’an. Keempat tradisi ini sebenarnya telah dikembangkan secara masif dalam kajian al-Qur’an. Kerangka konseptual dari kekeempat tradisi tersebut akan diperjelas sebagai berikut;

Tradisi Membaca

Dalam bahasa Arab, kata ‘membaca’ berarti qara-a. Kata ini sama dengan kata asal dari istilah al-Qur’an yakni qara-a yang juga berarti membaca, mensuarakan atau mengumpulkan. Dalam mushaf al-Qur’an, makna literal dari kata ‘qur’an’ mempunyai banyak arti, pertama, qur’an merupakan kosakata arab bagi taurat, kitab suci Yahudi dan injil. Kedua, qur’an secara invinitif berasal dari kata kerja qara’a yang berarti mengumpulkan, membacakan atau menyuarakan. Dari makna kata ini, al-Qur’an memang merupakan sebuah mushaf atau kumpulan bacaan yang dapat diakses oleh seluruh manusia. Secara teologis, keberadaan Qur’an sendiri mempunyai tiga arti penting; (i) pembacaan kalam Qur’an, (ii) wahyu yang terbacakan, (iii) bagian teks al-Qur’an yang diturunkan sehingga orang bisa membacanya. Ketiga makna ini menerangkan bahwa al-Qur’an memang merupakan bacaan yang baik dan mendidik.

Dalam tradisi Islam, membaca al-Qur’an diwajibkan untuk dilakukan secara tartil atau dengan indah dan benar. Di akhir abad III H, Abi Muzahim al-Khoqoti, memformulasikan keindahan ini dengan menulis semacam syair yang berisi kaidah-kaidah tata baca al-Qur’an. Sedangkan, asal-usul ilmu tajwid dapat dilihat dari dua sudut pandang, secara amaliyah dan secara ‘ilmiyyah. Untuk yang pertama, ilmu tajwid telah dipraktekkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Sedangkan dari sudut pandang kedua, orang yang pertama kali melakukan kajian tentang formulasi ilmu tajwid adalah al-Khalil ibn Ahmad al-Farohidy, Abu Aswad al-Duwaly dan Abu ‘Ubaidah al-Qosim ibn Salam.

Tradisi Menulis

Al-Qur’an juga biasa disebut sebagai al-kitab. Kitab dalam khazanah arab berarti nama dari sesuatu secara keseluruhan tertulis. Kata ini bisa berarti buku atau sesuatu yang ditulis. Dalam kompetensi menulis ini merupakan pelestarian dari keberadaan al-Qur’an sendiri yang memang tertulis. Azami melaporkan bahwa tradisi menulis dalam Islam dipopulerkan oleh nabi sendiri dengan mengeluarkan kebijakan praktis pendidikan yakni mendirikan pendidikan ahli suffah yakni sebauh perguruan bagi umat Islam. Ahli suffah juga merupakan asrama bagi pelajar yang tidak mampu dan menjamin keamanan dan kehidupan mereka. Dalam sistem pendidikan ini, Rasulullah mengangkat beberapa orang untuk mengajar tulis-menulis kepada ahli suffah. Guru-guru suffah seperti Abdullah ibn Abi Sa’id dan Ubadah ibn al-Shamit.

Beberapa abad setelahnya, tradisi tulis-menulis al-Qur’an sangat pesat berkembang dengan diformulasikan ilmu khot dan seni kaligrafi. Kata kaligrafi berasal dari dua kata Yunani yakni kallos: beuty (indah) dan graphein: to write (menulis) yang berarti tulisan yang indah atau seni tulisan indah. Sedangkan khat adalah kata yang berasal dari Arab. Kata ini berarti garis atau coretan pena yang membentuk tulisan tangan. Secara terminologis, ilmu khat adalah ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya dan tata cara merangkainya untuk menjadi tulisan yang tersusun secara indah. Khat atau kaligrafi ini juga dikenal sebagai seni menulis fann al-khat yakni seni memperhalus dan mempercantik tulisan atau memperbaiki tulisan.

Dalam sejarahnya, ilmu khat atau kaligrafi ini telah dikembangkan sejak awal Islam. Al-Faruqy mencatat tiga sahabat penting yang mengembangkan ilmu khat ini; mereka adalah Zaid ibn Stabit, sekertaris Nabi, Ali ibn abi thalib, Abu al-Aswad al-Dualy. Mereka mempelajari ilmu tata tulis untuk menulis dan menyalin ayat-ayat al-Qur’an. Kemudian, ulama’ semisal Ishaq ibn Hammad di abad VIII memformulasikannya dalam bentuk stulus, Kwaja Taj al-Salami al-Isfahani menemukan tulisan ta’liq, ibn Bawwab (w.1022) menyempurnakan tulisan sittah dan masih banyak ulama’ lain-lainnya .

Tradisi Menghafal

Tradisi menghafal adalah aktifitas pertama dalam proses pelestarian pewahyuan. Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi bukan berwujud selembar kertas atau sejilid buku atau sebongkah papan. Al-Qur’an di masa pewahuyan lebih banyak dilestarakan dengan ingatan. Dari ingatan tersebut para sahabat membaca berulang-ulang al-Qur’an di waktu-waktu tertentu. Boleh dikatakan bahwa menghafal al-Qur’an adalah strategi pertama untuk melestarikan wahyu al-Qur’an. Setelah Nabi memperoleh wahyu, beliau membacakannya berulang-ulang di hadapan para sahabat. Kemudian, sahabat mengulangi bacaan tersebut dan menjaganya dengan cara hafalan.

Tradisi menghafal al-Qur’an dikembangkan sampai sekarang. Di pulau Jawa Penghafalan al-Qur’an dilakukan di beberapa pesantren besar antara lain, pondok pesantren al-Munawir Krapyak Yogyakarta, pondok pesantren al-Qudsiyyah Kudus, Pondok pesantren Wahid Hasyim, Condong Catur Sleman dan masih banyak pesantren lainya. Sedangkan dalam silaby perguruan tinggi guru MI, mahasiswa diwajibkan menghafal 24 surat terakhir dalam juz Amma.

Tradisi Memahami

Menurut Nur Kholis Setiawan, al-Qur’an sebagai hasil komunikasi pewahyuan mempunyai dua implikasi metode. Pertama, hermenutikayang berhubungan dengan pemahaman (verstehen). Arti penting hermeneutika dalam pemahaman al-Qur’an terletak pada perannya yang proposional dalam menetapkan pertanyaan-pertanyaan mengenai refleksi teologis sebagai prosedur penafsiran. Kedua, metode estetik yang meneliti fenomena atau gejala yang terjadi di alam sekitar yang diakibatkan oleh resepsi yang interaktif antara al-Qur’an dan pembaca-pembacanya.

Dari konsepsi teoritis ini, tradisi memahami dalam penelitian ini bukan hanya difokuskan pada sisi penafsiran yang berkaitan dengan pendekatan tafsir, ta’wil dan terjemahan. Sebab, ketiga pendekatan tersebut hanya berkaitan dengan sisi kognitif manusia (peserta didik). Yang dimaksud dengan tradisi memahami di sini juga dikaitkan dengan sebuah resepsi esthethis yang berkaitan dengan aspek afektif dan psikomotorik dari manusia. Sehingga, peserta didik dapat menginternalisasikan pemahamannya dalam kehidupan kesehariannya.

Keempat tradisi kajian al-Qur’an yang dijadikan sebagai kerangka teoritis ini merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik.

(*). Staf Pengajar di STAI Ibrahimy, Genteng

From → Teori Qur an

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: