Skip to content

LULUS 100% Vs Jujur 100%

December 14, 2012

Oleh : Irfan Afandi, MSI *

Beberapa minggu terakhir ini (pada waktu tulisan ini dibuat), banyak sekali baliho penerimaan siswa baru yang dipasang oleh penyedia layanan pendidikan. Materi yang paling banyak ditawarkan, yang tertulis di baliaho tersebut adalah LULUS 100%. Hal ini mewakili keinginan dan kebutuhan masyarakat atau orang tua murid yang ‘ketakutan’ dengan standard nasional ujian nasional yang semakin tinggi saja. Sehingga, LULUS 100% menjadi kata-kata sakti bagi penyedia layanan pendidikan.

Memang, kelulusan siswa pada tahun ini sangatlah fantastis sebab mencapai hampir 100 % dari total siswa. Kalau saja tidak lulus itu dikarenakan siswa tersebut  tidak mengikuti ujian dengan berbagai sebab bukan karena tidak lulus dengan  alasan akademis.

Dengan tingkat kerumitan soal ujian nasional yang tinggi, menjadikan siswa lulus hampir 100% ini menjadi prestasi bagi penyedia pendidikan yang sangat luar biasa. Bagaimana tidak? Secara teoritis, menurut Lester Thurow yang dikutib oleh Ratna Megawangi bahwa sudah menjadi sunnatullah atau hukum alam di manapun di muka bumi ini yang memiliki IQ di atas rata-rata (>115) di sebuah daerah tidak lebih dari 15 % dari total penduduknya.

Dari teori ini sangatlah jelas, bukanlah hal tersebut merupakan prestasi yang sangat fantastis? Mampu menyelesaikan misiyang dianggap sebagai masyarakar awwam sebagai mission imposable . Bagaimana tidak? Dengan IQ siswa yang beragam dan secara faktual dapat mencapai kelulusan maksimal merupakan kerja keras yang tidak bisa dibayangkan dari tim penyedia layanan pendidikan di Indonesia.

Tetapi sayangnya, fakta tentang lulus 100% ini dibarengi dengan hasil-hasil survey lembaga luar negeri seperti TIMSS-R yang menunjukkan kualitas Sumberdaya Manusia (Human Development Index) berada pada peringkat 34 dari 38 negara yang disurvey. Dan bahkan Indonesia berasal dari survey PERC berada pada peringkat terbawah dari 12 negera atau satu peringkat dibawah Vietnam (dikutip dari Ratna Megawangi).

Fenomena ini tentunya fakta yang sangat paradog di mana kelulusan 100%  tetapi berkwalitas rendah. Tentunya, pertanyaan paling bodohnya adalah mengapa terjadi demikian?

Para ahli mengeluhkan tentang sistem pendidikan nasional yang bermasalah. Pendidikan nasional sudah dikooptasi dengan kepentingan-kepentingan sesaat meraih keuntungan. Label-label sekolah semakin beragam mulai dari satu atap, sekolah terpadu, sekolah percontohan, sekolah favorit, sekolah international, sekolah inklusi dan masih banya lagi nama sekolah yang pada akhirnya hanya berhenti pada slogan marketing..!!!

Pada level bawah, seperti di kabupaten Banyuwangi ini memang tidak berdaya melawan gempuran progam pusat di bidang pendidikan walaupun sudah otonomi daerah. Program-program dari pusat ‘berjatuhan’ yang tidak bisa ditolak atau ditawar lagi. Sekolah mana yang kemudian berani tidak mengikuti Ujian Nasional walaupun semua guru sudah menyadari tentang ‘bom waktu’ bernama UN yang mengancam eksistensi masa depan. Padahal kalau sekolah sudah diberi sebuah label semisal sekolah inklusi, maka harus menerapkan pola yang berbeda dengan sekolah yang berlabel full day. Tapi senyatanya, dengan ‘hujan program’ dari pemerintah pusat, entah sekolah inklusi, fullday, sekolah favorit  atau rintisan sekolah international, senyata mempunyai target yang sama yakni mengejar LULUS 100% dan tak berbeda dengan visi dan misi di masing-masing label.

Di sisi lain, sekolah kejuruhan yang menawarkan life and work skill menjadi sekolah yang terpinggirkan. Sekolah  tipe ini menjadi pilihan sekolah terakhir ketika di mana-mana sudah tidak diterima lagi. Padahal, seharusnya masyarakat harus menyadari kapastias dari anak-anaknya. Dalam teori psikologi dinyatakan, kalau Tuhan sudah menganugerahi IQ 98 kepada seseorang, seberapa kuat usahanya manusia tidak akan mampu merubah-nya menjadi IQ 126.

Dari fakta ini, kita sebenarnya tinggal menyiasati, apabila anak kita tidak cocok menggeluti dunia yang membutuhkan IQ di atas rata-rata maka anak kita harus kita dibekali dengan life skill yang berbeda. Jangan sampai kemudian anak dipaksakan untuk mengejar trend yang senyatanya tidak membahagiakan anak-anak. Jangan sampai anak-anak kita yang merupakan penerus masa depan, yang mengirim surat fatihan kepada kita malah melakukan hal-hal yang sebenarnya salah tetapi diyakininya benar. Makanya .perlu ditambah bukan hanya lulus 100% tetapi juga JUJUR 100%! Kan ya begitu to kang? He…he…he…he…

(*) Irfan Afandi  => Mahasiswa Pascasarjana FE  Unej; Ketua LPPM STAI Ibrahimy, Genteng; sedang meneliti tentang “Pendidikan Karakter di Kab. Banyuwangi”.

From → Artikel Qur an

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: