Skip to content

Qur an at Tahrim : 6 ; Arisan Sek*, Apalagi?

December 14, 2012

“GAUL”, KEMISKINAN DAN NEGARA

Sebuah ungkapan penuh prestis dalam pergaulan remaja. Remaja akan malu kalau tidak dikatakan anak gaul, tidak funky atau tidak cool. Gaul seakan jadi icon standar pergaulan yang menunjukkan luasnya wawasan pergaulan anak muda. Dunia anak gaul sepertinya adalah dunia yang berbeda di dunia yang sama (different world in same world). Bahkan beberapa tahun lalu, dikarang kamus khusus bahasa anak gaul untuk membedakan bagaimana anak gaul berbicara, berkomunikasi dan bertingkah. Seiring dengan perkembangan dunia komunikasi yang pesat, sekarang, “menjadi gaul” bukan lagi monopoli anak gedongan di perkotaan. Tetapi, wabah “harus menjadi anak gaul”, telah merambah di pelosok-pelosok pedesaan.

Fenomena ‘gaul’ pada tiap-tiap generasi berbeda, hal ini dapat dilihat dari tingkah laku, fashion, pakaian, cara berucap, hobby, kendaraan, musik bahkan mode rambut sekalipun. Pada tiap era memiliki ciri khas anak gaul, yang beda. Tapi sayang, kalau kita mencermati keadaan ‘anak gaul’ zaman sekarang terasa sisi negatifnya yang lebih terasa. Tak sedikit dari mereka yang terperosok pergaulan yang merusak talenta dan membunuh kreativitas bahkah membahayakan kehidupannya. ‘Dugem’ atau begadang yang diisi dengan hedonitas ala kehidupan metropolis, pergaulan dan seks bebas, marriage by accident, narkoba hingga gonta-ganti pasangan, menghantui kehidupan generasi muda kita yang dinamakan ‘anak gaul’. Belum lagi gaya hidup konsumeris mereka yang peragakan di kehidupan sehari-hari. Ingin gaul dengan teman harus membeli sarana komunikasi yang simple, canggih dan mahal, berpakaian modis yang membutuhkan tidak sedikit biaya, atau “nongkrong” di tempat gaul juga harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Padahal, kebanyakan anak-anak gaul ini, masih sangat bergantung dengan orang tua. Sedangkan tingkat kemiskinan keluarga, sebagai nucleus terkecil, di negara kita ini masih cukup tinggi.

Hal ini tentunya tidak bisa menutupi gaya hidup anak-anak yang dituntut “gaul” oleh lingkungannya. Sangatlah mungkin, “gaul” tidak hanya masalah psikologis anak muda (teeneger), tetapi terkait dengan sosial, ekonomi dan politik di negara ini. Oleh sebab itulah, untuk melihat dari fenomena “harus menjadi gaul” anak muda sekarang, harus dilihat dari tiga sisi pandang. Pertama, dari sisi pihak pertama yakni anak muda sebagai subyek dan pelaku yang dituntut untuk “menjadi gaul” oleh lingkungannya. Dunia anak muda, dari sudut pandang psikologis, memang dunia penuh gejolak, mereka selalu ingin melakukan hal-hal baru dan beda. Mereka mencotoh apa yang mereka lihat, dengar, idolakan dan menjadi trend kala itu. Pengkonsumsian obat-obat terlarang, nongkrong di tempat-tempat tertentu atau gaya hidup penuh kemewahan, kebanyakan, berawal dari citra yang mereka ketahui. Mereka rela melakukan apa saja, demi terpenuhinya keinginan-keinginan ini. Kedua, sudut pandang orang tua dan keluarga.

Dalam analisa konvensional, keluarga seringkali didudukkan sebagai tempat pendidikan pertama bagi anak. Hal ini memang sesuatu yang wajar dan dapat dimaklumi bersama, tetapi bisakah dibayangkan berapa jam anak-anak muda sekarang berkumpul bersama oirang tua? Seberapa pengaruhkah nasehat orang tua bagi anak-anaknya? sangatlah naif kalau kosentrasi analisa ini pada masalah tersebut. Maka, bidikan analisa ini akan dialihkan pada bagaimana orang tua bisa membiayai anak-anak mereka, dengan tingkat ekonomi yang rendah? Secara spekulatif, bisa jadi dikatakan bahwa fenomena anak gaul dewasa ini adalah salah satu variable maraknya budaya korupsi di pemerintahan atau penyalah gunaan HPH atau mungkin menjadi variable meningkatnya angka kriminal di jalanan. Hal ini memang tidak langsung berhubungan secara lahir, tetapi merupakan “jejaring dalam” yang tidak diketahui dan mungkin tak terkatakan. Ketiga adalah sisi negara.

Secara normatif, negara adalah lembaga penyelenggara pemerintahan. Setelah membayar pajak, rakyat berhak untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik. Dalam kaitannya dengan fenomena anak gaul, negara harus bisa mengatur pola kehidupan anak gaul yang kebanyakan masih berusia belasan tahun. Negara seharusnya bertanggung jawab dengan generasi muda, sebab tanggungjwab ini, berada di pundak keluarga yang telah tak berdaya di bawah globalisasi dan perdagangan bebas. Negara harus bisa mengeluarkan peraturan ketat dan bertindak tegas atas semua pelanggaran yang berkaiatan dengan genarasi muda.

Di negara maju seperti beberapa negara Eropha dan juga beberapa negara bagian Amerika, pemerintah sangat bertanggungjwab kepada generasi muda, umpamanya pengunjung bar, yang nota bene berjualan minuman keras sampai tempat pelacuran, harus di atas umur 17 tahun. Apabila menerima tamu di bawah umur tersebut, pihak pengelola akan dikenakan sangsi sampai penutupan tempat usaha tersebut. Tetapi, di negara ini, dapat dinilai gagal dalam menangani generasi muda. Fenomena kehidupan “anak gaul” adalah salah satu bukti kegagalan yang tak bisa dipungkiri. Negara yang seharusnya dapat menata pola kehidupan generasi muda tidak sanggup bertindak tegas.

Tempat-tempat tertentu, yang merupakan tempat “orang-orang dewasa” banyak dikunjungi oleh teeneger, bahkan mungkin ada tempat malah memperkerjakan anak di bawah umur. Ketidak-tegasan inilah, yang kemudian menjadi masalah sosial-budaya akut yang mengerogoti generasi muda. Inilah tiga sisi yang menjadi persoalan yang tak terlihat dari fenomena lahir yang bernama fenomena “anak gaul”. Bisa jadi, ini hanyalah fenomena psikologis dari generasi muda, tetapi kita harus sadar bahwa semua hal yang terjadi di dunia ini tidaklah sendirian. Semua saling kait dan berkelindan dengan banyak hal. Ini juga bukan penilaian baik-buruk dari generasi yang menamai dirinya dengan sebutan “anak gaul”, tetapi lebih pada analisa efek yang tak terlihat, yang tidak disadari tetapi dirasakan di setiap hari-hari kita.

(arsip: tulisan lama)

(*) Irfan Afandi  => Mahasiswa Pascasarjana FE  Unej; Ketua LPPM STAI Ibrahimy, Genteng; sedang meneliti tentang “Pendidikan Karakter di Kab. Banyuwangi”.

From → Artikel Qur an

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: